
Burung Unta (Ostrich): Bisnis Eksklusif Daging, Kulit, dan Telurnya – Burung unta atau ostrich (Struthio camelus) merupakan burung terbesar di dunia yang berasal dari kawasan Afrika. Dengan tinggi mencapai 2,5 meter dan berat hingga 150 kilogram, burung ini tidak dapat terbang, tetapi mampu berlari hingga 70 km/jam. Selain keunikan fisiknya, burung unta memiliki nilai ekonomi tinggi karena hampir seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan, mulai dari daging, kulit, bulu, hingga telurnya.
Di beberapa negara maju seperti Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Australia, peternakan burung unta sudah menjadi industri besar. Mereka tidak hanya menjual produk dalam bentuk mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti tas kulit mewah, kosmetik berbasis minyak burung unta, hingga dekorasi rumah dari telur hias.
Daging burung unta terkenal sebagai alternatif sehat dari daging sapi atau ayam. Kandungan lemaknya rendah, tetapi kaya akan protein dan zat besi, menjadikannya populer di kalangan konsumen yang peduli kesehatan. Di restoran fine dining, menu berbahan daging burung unta bahkan dianggap eksklusif karena harganya lebih tinggi dibandingkan daging biasa.
Selain daging, kulit burung unta merupakan salah satu komoditas yang paling bernilai. Teksturnya khas dengan pori-pori alami yang unik, sehingga sering dipakai oleh rumah mode ternama untuk membuat tas, dompet, sepatu, hingga sabuk. Produk berbahan kulit burung unta dihargai mahal, sekelas dengan kulit buaya atau kulit ular.
Sementara itu, telur burung unta juga tak kalah menarik. Telur ini berukuran raksasa, bisa mencapai berat 1,5 hingga 2 kilogram per butir, setara dengan 24 butir telur ayam. Selain dikonsumsi, telur burung unta sering dijadikan bahan dekorasi atau kerajinan tangan karena cangkangnya yang keras dan indah.
Tren gaya hidup sehat, meningkatnya permintaan produk eksotis, serta berkembangnya industri mode dan kuliner menjadi faktor utama yang mendorong potensi bisnis burung unta. Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, mulai melirik peluang ini meskipun masih dalam tahap awal pengembangan.
Strategi Budidaya dan Tantangan Pasar
Mengembangkan bisnis burung unta membutuhkan strategi yang matang karena hewan ini berbeda dengan unggas pada umumnya. Dari segi kandang, burung unta memerlukan lahan yang luas. Mereka butuh area terbuka untuk berlari dan bergerak bebas. Idealnya, satu pasang indukan ditempatkan pada lahan minimal 400–500 meter persegi agar tidak stres dan dapat bereproduksi dengan baik.
Dalam hal pakan, burung unta bukanlah pemakan daging, melainkan herbivora omnivora ringan. Mereka mengonsumsi rumput, biji-bijian, sayuran, bahkan serangga kecil. Untuk meningkatkan produktivitas, peternak biasanya memberikan pakan campuran kaya protein dan mineral. Asupan kalsium menjadi penting karena berpengaruh terhadap kualitas telur dan kesehatan tulang.
Burung unta betina dapat menghasilkan 40 hingga 60 butir telur per musim. Dari telur tersebut, anak burung unta bisa ditetaskan dengan inkubator atau secara alami. Tingkat keberhasilan penetasan sangat dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan dan kualitas pakan.
Namun, tantangan utama dalam bisnis burung unta terletak pada investasi awal yang tinggi dan risiko pasar. Kandang yang luas, pakan berkualitas, serta perawatan medis memerlukan modal besar. Selain itu, karena produk burung unta masih dianggap eksotis, pasar domestik belum terlalu besar dan lebih banyak bergantung pada konsumen premium atau ekspor.
Tantangan lain adalah regulasi dan perizinan. Di beberapa negara, perdagangan produk hewan eksotis diawasi ketat. Kulit burung unta, misalnya, harus memenuhi standar internasional sebelum diekspor ke pasar Eropa atau Amerika. Begitu juga dengan daging, yang harus melewati sertifikasi kesehatan hewan dan kebersihan (food safety).
Untuk mengatasi hal tersebut, peternak biasanya melakukan diversifikasi produk. Selain menjual daging segar, mereka mengolahnya menjadi sosis, dendeng, atau steak beku. Kulit diolah menjadi produk jadi seperti tas dan sepatu, bukan hanya bahan mentah. Sementara telur dimanfaatkan tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga kerajinan bernilai seni tinggi.
Dengan strategi ini, peternakan burung unta bisa menghasilkan keuntungan maksimal dari setiap bagian tubuh burung. Tidak ada yang terbuang sia-sia, sehingga bisnis ini kerap disebut sebagai usaha dengan nilai tambah tinggi dan keberlanjutan jangka panjang.
Kesimpulan
Burung unta adalah hewan eksotis dengan potensi bisnis yang luar biasa. Dari daging rendah lemak yang sehat, kulit premium yang diminati industri mode, hingga telur raksasa yang unik, hampir seluruh bagian tubuh burung unta bisa dimanfaatkan. Hal ini membuat peternakan burung unta menjadi peluang usaha eksklusif yang menjanjikan, terutama di pasar global yang terus berkembang.
Namun, untuk sukses dalam bisnis ini dibutuhkan modal besar, pengetahuan budidaya yang tepat, serta strategi pemasaran yang menyasar segmen premium. Tantangan regulasi, perawatan intensif, dan pasar terbatas juga harus dihadapi dengan inovasi, diversifikasi produk, dan peningkatan kualitas.
Jika dikelola dengan baik, peternakan burung unta bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga bisa menjadi simbol eksklusivitas dan keberlanjutan. Bagi negara seperti Indonesia yang kaya sumber daya alam, mengembangkan industri ini dapat membuka peluang ekspor, menciptakan lapangan kerja, serta memperkaya ragam produk unggulan di pasar internasional.